Senin, 23 Juli 2012

ayah baru ku


Aslmkm
Bismillah, Senin, 23 Juli 2012 pukul 11:04.. sengaja nunggu semuanya tidur dulu dan keadaan cukup kondusif untuk nulis. Judul yang bikin orang kepo ya “ayah baru ku” hehehe sebenernya isinya ngga sebagus judulnya sih. Disini sebenarnya Cuma ungkapan hati seorang anak yang bersyukur sekali melihat ayahnya sudah berubah menjadi sesuai dengan apa yang anaknya harapkan.

Pak Budi, ya... nama itu familiar banget kan dikuping?? Yang biasanya identik dengan antagonis di  timeline ku, sekarang berubah sekejap berperan menjadi baik. sebenarnya memang sudah baik dari dulu, tapi sekarang lebih baik lagi. Artikel ini emang udah pengen aku tulis dari beberapa bulan yang lalu. Tapi baru sekarang punya mental untuk menulis ini.. butuh keberanian yang sangat kuat, kelapangan dan mungkin ember untuk menadahi semua air mata yang nantinya bakalan jatuh. Ntah ayah baca ini nantinya apa ngga.

Ngga sadar sudah hampir mungkin lebih 4 tahun seperitnya memiliki hubungan yang dingin dengan sang ayah, saling diam, adu argumen, kesalah pahaman yang berujung otot ototan seperti ada tembok besar yang memisahkan antara ayah dan anak ini entah kenapa rasanya kepedulian ku habis bercampur dengan kelelahan karna setiap bertemu yang ada hanya adu otot..

Artikel ini membawa ku kepada masa lalu yang sangat aku rindukan. Ya, ayah yang mengajari ku sepeda, ayah yang selalu mengendong dan mencium ku penuh canda, yang selalu aku ingat ketika aku memiliki sepotong kue dan rasanya ingin sekali berbagi dengan sang ayah, dan aku yang selalu ia ceritakan kepada teman temannya, seakan akan dia paling beruntung memiliki aku. Hehe :’) aku rindu sekali masa kecil itu, saat tembok pemisah itubelum ada.. mungkin ayah ku berfikir aku tidak rindu akan hal itu.

ibu ku selalu bilang, bahwa berbakti itu tidak hanya dengan ibu, tapi juga dengan ayah. Bahwa berbakti itu kepada kedua orang tua bukan dengan salah satunya. Aku coba fahami itu semua.. aku mohon kepada Allah agar perbaiki hubungan ku dengan ayah. Aku coba fahami kenapa tembok itu rasanya besaaaar sekali.

Ternyata aku, aku yang terlalu berharap besar kepadaayah  ku, buat ku sesosok ayah haruslah sempurna, hampir mendekati seorang ustad. Padahal ayah ku adalah seorang lelaki yang bisa dibilang metal, ayah ku anak bengkel cinta banget otomotif, hobbynya utak atik mobil. Sedangkan aku berharap, ayah ku untuk hoby baca quran dan pulang pergi kemasjid...  setelah aku fahami permasalahan itu aku coba turunkan ego ku, aku menyadari dan menerima bahwa seperti itu lah ayah ku sambil aku minta kepada Allah untuk bolak balikan hatinya.

Sampai pada suatu saat, ibuku mengadakan wisata rohani dan sepulang dari sana sepertinya aku mendapatkan ayah yang aku ingin! Ayah baru ku, ayah yang senantiasa solat berjamaah dimasjid, solat awal waktu, kemauan untuk berdoa, belajar mengaji dan mendirikan sunnah. Emosinya pun sudah tak selabil kemarin, sekarang kata2nya pun terkontrol. Itulah Allah, senantiasa mendegar doa hambanya, senantiasa membolak balikan hati siapa saja yang Ia kehendaki. Semoga juga Allah istiqomahkan ayah ku dalam kebaikan, syukur2 bisa jadi pak ustad. Aamiin..

Itulah curahan hati seorang anak. Ngga bagus2 banget bahasanya, karna emang aku ngga bisa nulis. Tapi, cukuplah untuk meluapkan isi hati dan jadi inspirasi buat anak anak lain yang punya harapan besar sama ayahnya sampai akirnya harapan itu justru melukai mereka. Dari kejadian ini aku diajarkan oleh Allah bahwa kebaikan itu hanya milik Allah, dan jangan sekali sekali berharap terlalu tinggi kepada manusia, karna Cuma kepada Allah lah kita bisa gantungkan harapan yang tinggi...







Wslmlkm 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar